PROPOSAL PENELITIAN
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MEDIA ULAR TANGGA PADA SISWA KELAS 2 SD NEGERI
TEGASARI 03 SEMARANG
Oleh:
1.
ISMAWATI (10120207)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
IKIP
PGRI SEMARANG
2013
Judul
Penelitian
ini dengan judul: “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran
Matematika Melalui Media Ular Tangga Pada Siswa Kelas 2 SDNegeri Tegasari 03
Semarang”.
A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum Satuan Tingkat
Pendidikan ( Depdiknas, 2006:15) menjelaskan,” Tujuan diberikannya matematika
antara lain agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan di dunia yang selalu
berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis,
rasional kritis, cermat, jujur dan efektif”. Hal tersebut merupakan tuntutan
konkrit yang hanya dapat diwujudkan dengan upaya yang keras dan gigih dari para
pendidik kepada siswa, karena itu diperlukan suatu rancangan pembelajaran yang
lebih kreatif, inovatif yang dapat memaksimalkan kemampuan siswa.
Siswa mempelajari matematika
diharapkan mampu menguasai materi matematika. Untuk menguasai materi
matematika, siswa terlebih dahulu harus menguasai konsep prasyarat bagi materi
yang akan dan sedang akan dipelajari. Suherman (1994:17) menemukakan “Konsep
prasyarat merupakan suatu prinsip atau konsep yang telah dipelajari dan
menunjang pada konsep atau prinsip yang sedang dipelajari sehingga materi yang
dipelajari lebih bermakna” ini berarti dalam belajar matematika, siswa harus
memiliki kesiapan pemahaman terhadap konsep prasyarat sebelum mempelajari konsep
yang lebih kompleks agar proses belajar yang dilaluinya lebih berhasil. Oleh
karena itu kesiapan siswa dalam penguasaan konsep-konsep prasyarat akan
mempengaruhi penguasaan konsep selanjutnya.
Supaya siswa memperoleh
pengalaman belajar yang lebih bermakna, guru harus mampu memilih strategi dan
pendekatan yang tepat, sesuai dengan kompetensi dasar yang diwajibkan.
Pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan KTSP adalah pendekatan pembelajaran
yang dapat lebih memberdayakan kemampuan siswa mengkonstruksikan pengetahuan di
benak mereka.
Untuk membuat suasana
pembelajaran yang lebih bermakna konsep yang jelas harus diberikan secara tepat
kepada siswa. Kenyataan yang ada di lapangan, khususnya di SDN
Tegalsari 03 Semarang, menunjukkan bahwa di dalam suatu kelas ketika proses
pembelajaran sedang berlangsung, ada beberapa atau sebagian besar siswa belum
belajar sewaktu guru mengajar. Selama proses pembelajaran, seorang guru belum
memanfaatkan seluruh potensi keterampilan dirinya dalam mengajar sehingga sebagian
besar siswa belum mampu mencapai tingkat kriteria yang dituju. Sebagian siswa
belum memahami materi pelajaran yang diajarkan oleh guru mereka (Linda, A.Md.,
salah satu guru kelas di SDN Tegalsari 03 Semarang).
Salah satu masalah ada pada
pelajaran matematika KD 1.2 yaitu mengurutkan bilangan sampai
500. Pada KD ini, siswa mengalami kesulitan untuk mengurutkan bilangan loncat. Hal ini terlihat dari kesulitan
siswa menyelesaikan soal matematika yang terkait dengan bilangan loncat. Pada pembelajaran matematika kelas II
di SDN Tegalsari 03 Semarang dengan materi mengurutkan bilangan loncat yang
didasarkan pada rata-rata tes kemampuan awal , diperoleh data bahwa sebagian
besar siswa kelas II SDN Tegalsari 03 Semarang hasilnya masih dibawah Kriteria
Ketuntasan Minimal ( KKM=70,00).
Untuk mendorong anak supaya
dapat meningkatkan hasil belajar tentang
materi bilangan loncat. peneliti berkeyakinan bahwa media Ular Tangga ini akan
berhasil denan didasarkan pada asumsi bahwa media ini memiliki beberapa kelebihan
diantaranya penggunaan angka yang berwarna-warni yang biasanya disukai anak,
memanfaatkan aktivitas gerak pada anak, mudah digunakan, kreatif dan inovatif
serta dapat digunakan secara berkelompok.
B.
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang masalah, maka dapat diketahui adanya banyak faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika melalui
media Ular Tangga pada siswa kelas II SDN Tegalsari 03 Semarang Tahun 2013,
diantaranya adalah:
1.
Kurangnya pemahaman
siswa terhadap materi matematika.
2.
Sebagian besar
siswa belum belajar sewaktu guru mengajar.
3.
Minat siswa dalam
mengikuti pelajaran matematika masih sangat minim.
4.
Pembelajaran
matematika hanya dengan menggunakan metode ceramah (konvensional) dan penugasan
dalam bentuk LKS.
5.
Guru belum
menggunakan bantuan media atau alat peraga yang inovatif dan kreatif dalam
proses pembelajaran.
6.
Tujuan
pembelajaran belum tercapai secara maksimal.
C. Pembatasan Masalah
Penerapan
kegiatan pembelajaran dengan media ular tangga sebenarnya dapat dilakukan di
semua mata pelajaran. Namun, berdasarkan identifikasi masalah yang telah disebutkan
di atas, maka peneliti mempersempit permasalahan dalam pembatasan masalah supaya
penelitian yang dilakukan lebih spesifik dan lebih fokus. Sehingga pemasalahan
yang hendak dikaji adalah rendahnya prestasi belajar siswa pada pembelajaran
matematika kelas II Sekolah Dasar khususnya pada pembahasan materi bilangan
loncat di SDN II Tegalasi 03 Semarang tahun 2013. Sedangkan prestasi belajar
siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa, baik dari
nilai ulangan harian maupun nilai tugas serta keaktivan siswa dalam proses
pembelajaran dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan atau soal dari guru.
D. Perumusan Masalah
1. Apakah
pembelajaran dengan menggunakan media ular tangga dapat mencapai ketuntasan
belajar siswa pada pembelajaran matematika kelas II SDN Tegalsari 03 Semarang
tahun 2013?
E. Pemecahan Masalah
Adanya hasil
belajar siswa yang rendah dalam pembelajaran matematika, hal ini dikarenakan
pembelajaran yang dilaksanakan guru masih bersifat konvensional yang hanya
berceramah dan menggunakan papan tulis dan latihan di buku sebagai kegiatan
siswa, sehingga siswa kurang tertarik dalam mengikuti pelajaran, hal ini juga
mengakibatkan siswa kurang mengerti makna dan tujuan dari pembelajaran sehingga
matematika selalu dianggap sebagai mata pelajaran yang rumit dan sulit.
Supaya hal
tersebut dapat teratasi, maka perlu diadakan pembenahan dalam proses
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran Matematika khususnya
materi bilangan loncat. Solusi yang diambil adalah dengan menggunakan media
ular tangga. Setelah digunakannya media ular tangga, maka siswa akan lebih
tertarik dan antusias dalam mengikuti pembelajaran matematika. Sehingga pada
akhirnya hasil belajar siswa akan meningkat.
Adapun alur
pemecahan masalah yang ditujukan untuk mengarahkan jalannya penelitian agar
tidak menyimpang dari pokok-pokok permasalahan, maka pemecahan masalah dilukiskan dalam sebuah gambar skema agar
penelitian mempunyai gambaran yang jelas dalam melakukan penelitian. Adapun
skema itu adalah sebagai berikut:
|
Kondisi
Awal
|
|
Pembelajaran yang
dilaksanakan guru masih bersifat konvensional
|
|
Hasil belajar siswa
masih tingkat rata-rata
|
|
Diadakan perbaikan
proses pembelajaran
|
|
Kondisi Akhir
|
|
Siswa lebih mudah
memahami materi sehingga hasil belajar siswa meningkat
|
|
Menggunakan media
ular tangga
|
|
Siklus 1
|
|
Siklus 2
|
|
Siklus 3
|
F.
G.
H.
F.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
perumusan masalah di atas, maka dapat ditetapkan tujuan penelitian sebagai
berikut :
1. Untuk
mengetahui efektifitas penggunaan media ular tangga meningkatkan prestasi
belajar siswa pada pembelajaran matemtika kelas II SDN Tegalsari 03 Semarang
tahun 2013.
G. Manfaat Penelitian
Penelitian
ini memiliki manfaat
secara teoritis dan praktis.
1.
Secara
teoritis, jika dengan menggunakan media ular tangga
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran Matematika di sekolah dasar, maka
penelitian ini dapat dijadikan sebagai
landasan teori untuk kegiatan-kegiatan
inovasi pembelajaran, penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan menambah wawasan
bagi pengkajian inovasi pembelajaran.
2.
Secara
praktis, penelitian ini dapat
digunakan:
1)
Bagi Kepala
Sekolah
a.
Dapat digunakan
sebagai bahan membuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu proses
pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Matematika.
b.
Dapat digunakan
untuk mengadakan
pembinaan dan pelatihan dalam mengembangkan kinerja guru dalam proses
pembelajaran.
2)
Bagi Guru
a.
Dapat memperoleh
keterampilan baru yaitu dengan media ular tangga dalam pembelajaran Matematika
khususnya dalam pembahasan materi Bilangan Loncat pada siswa kelas II SD.
b.
Dapat digunakan oleh guru-guru di
sekolah dasar dalam upaya pengembangan
inovasi pembelajaran.
3)
Bagi Siswa
a. Dapat
meningkatkan dan membangkitkan minat serta keaktivan belajar siswa terhadap
mata pelajaran Matematika dengan cara merangsang kebutuhan berprestasi yang ada
dalam diri siswa melalui penggunaan media ular tangga.
b. Meningkatkan
prestasi belajar siswa dalam pembelajaran Matematika khususnya dalam pembahasan
bilangan loncat siswa kelas II SD.
H.
Kajian
Teori
1.
Belajar
Belajar
adalah perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (Bukan hasil
perkembangan , pengaruh obat , kecelakaan) dan bias melaksakannya pada
pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain
(pidarta,2000 : 197) dalam Warsita, 2008. Dengan demikian belajar menuntut
adanya perubahan yang relatif permanen
pada pengetahuan atau perilaku seseorang karena pengalaman.
Konsep belajar sebagai suatu upaya atau
proses perubahan perilaku seseorang sebahgai akibat interaksi peserta didik
dengan berbagai suber belajar yang ada disekitarnya. Salah satu tanda seseorang
telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada dirinya. Perubahan
tingkah laku tersebut meliputi perubahan pengetahuan (kognitif), keterampilan
(psikomotorik), Sikap (Afektif).
Konsep belajar menurut UNESCO menuntut
setiap satuan pendidikan untuk dapat mengembangkan empat pilar pendidikan baik
untuk sekarang dan masa depan yaitu (1) Learning To Know (belajar untuk
mengetahui), (2) Learning To Do (Belajar untukk
melakukan sesuatu), (3) Learning To Be (Belajar Untuk menjadi
seseorang), (4) Learning To Live Together (Belajar untuk menjalani kehidupan
bersama) (Warsito Bamabang, 2008 : 63)
2.
Hasil
Belajar
Hasil
belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar
mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan (Purwanto, 2009 : 54). Hasil belajar
diukur untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan sehingga hasil belajar
harus sesuai dengan tujuan pendidikan.
Menurut
Purwanto (2009, 48) domain hasil belajar adalah perilaku-perilau kejiwaan yang
akan diubah dalam proses pendidikan. Perilaku kejiwaan itu dibagi dalam tiga
domain : Koonitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar kognitif adalah
perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi. Hasil belajar afektif
adalah berhubunagan dengan perubahan sikap dan hasil belajar psikomotorik
adalah berhubungan dengan keterampilan yang dimiliki siswa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat di
simpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa dalam
menerima informasi-informasi yang di peroleh dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam penelitian ini kemampuan siswa
yang diharapkan guru adalah dalam menguasai materi pada mata pelajaran
matematika. Siswa diharapkan mampu
mendapathan hasil belajar yang baik pada mata pelajaran matematika.
3.
Pembelajaran Matematika di Sekolah
Kedudukan
matematika sebagai salah satu ilmu dasar sangatlah penting untuk dipelajari dan
dimengerti siswa. Untuk itu dalam penyusunan atau penyempurnaan kurikulum perlu
adanya pertimbangan mengenai matematika sebagai salah satu bidang ilmu dasar.
Hal itu berarti menunjukan bahwa maksud dari matematika di dalam kurikulum
pendidikan dasar dan menengah adalah matematika disekolah. Suherman, dkk (2003:
55) menyatakan bahwa matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di
sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di pendidikan dasar (SD dan SMP) dan
pendidikan menengah (SMA atau SMK).
4.
Fungsi dan Tujuan Matematika di Sekolah
Adapun
fungsi matematika di sekolah adalah sebagai berikut:
1)
Sebagai alat, alat yang dimaksud disni adalah
matematika diberikan kepada siswa agar siswa mampu memahami makna dari materi
matematika tersebut dan mampu menyampaikan informasi yang sudah siswa dapat
pada pembelajaran matematika itu sendiri.
2)
Sebagai pola pikir, belajar matematika bagi para siswa
juga merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun
dalam penalaran dari suatu konsep. Siswa akan memperoleh pemahaman melalui
pengalamannya sendiri, dengan berbagai contoh ataupun bukan, kemudian siswa
diharapkan mampu menangkap pengertian suatu konsep selanjutnya melalui
abstraksi siswa dilatih membuat perkiraan-perkiraan yang nyata, terkaan dari
suatu konsep dan kecenderungan dari pengalaman yang siswa dapat. Di dalam
proses penalaran itulah dikembangkan pola pikir siswa terhadap suatu konsep
dengan memperhatikan perkembangan siswa sehingga dapat membantu kelancaran
belajar matematika siswa.
3)
Sebagai ilmu atau pengetahuan, dalam belajar
matematika tentunya diperoleh ilmu-ilmu atau berbagai pengetahuan yang awalnya
tidak diketahui menjadi tahu dan mengerti, sehingga belajar matematika
mempunyai nilai positif untuk kehidupan siswa.
Sedangkan menurut Purwanto (2009: 58) tujuan
matematika disekolah adalah sebagai beriku:
1)
Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan,
keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan
bertindak atas dasar pemikiran logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif
dan efisien.
2)
Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika
dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari
berbagai ilmu pengetahuan.
5.
Peranan Matematika di
Sekolah
Peran pelajar dalam penggunaan matematika yang di
berikan di sekolah bisa untuk memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang
ada. Selain itu dapat digunakan siswa untuk mengikuti mata pelajaran yang lain
seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi dan bidang ilmu lainnya. Untuk
mengoptimalkan peranan matematika perlu juga dioptimalkan proses pembelajaran.
Seperti yang diungkapkan Uno (2009: 163) bahwa untuk mengoptimalkan poses
pembelajaran perlu dikembangkan proses belajar aktif, sebagai berikut:
1) Menggunakan
bermacam-macam strategi tanya jawab.
2) Mengajukan masalah untk
dipesahkan oleh para siswa.
3) Mengkonstruksi model
dari konsep kunci.
4) Menyuruh siswa untuk
mengungkapkan pemahaman mereka dengan menggunakan objek yang konkret.
5) Memprediksi dan
membuktikan dampak atau hasil secara logis.
6) Mempertajam pola dan
hubungan dalam bermacam-macam fenomena.
7) Meminta siswa untuk
mengemukakan alasan dari pernyataan dan pendapat mereka.
8) Menyediakan kesempatan
bagi siswa untuk melakukan pengamatan dan analisis.
9) Mendorong siswa untuk
membangun maksud dan tujuan dari belajar.
10) Menghubungkan konsep
atau proses matematis dengan mata pelajaran lain dan juga dengan kehidupan
nyata.
6. Pengertian
Media Pembelajaran
Menurut
Arif S. Sardiman (2006), kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan
bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.
Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
Istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan
penerima. Jadi televisi, film, foto, radi0, rekaman audi0, gambar yang
dipr0yeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya adalah media k0munikasi.
Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan
instruksi0nal atau mengandung maksud pengajaran, maka media itu disebut media
pengajaran. (Heinch,dkk,1982)
Media
pembelajaran adalah alat bantu mengajar yang turut mempengarui iklim, k0ndisi,
dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan 0leh guru (Ashar Arsyad, 1996
: 14)
Setiap
kali kata media pendidikan digunakan secara bergantian dengan istilah alat
bantu atau media k0munikasi seperti yang dikemukakan 0leh Hamalik (1986:4)
dimana ia melihat bahwa hubungan k0munikasi akan berjalan dengan lancar dengan
hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media
k0munikasi. Secara emplisit mengatakan bahwa media pembelajaran yang meliputi
alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran
antara lain buku, tape rec0rder , kaset, vide0 kamera, vide0 rec0rder, film,
slide ( gambar bingkai), foto, gambar,grafik,televise dan k0mputer. Dengan kata
lai media adalah k0mp0nen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung
materi instruksi0nal di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk
belajar.
Dari
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah
media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksinal atau
mengandung maksud-maksud pengajaran selain itu media adalah perantara atau
pengantar pesan dari pengirim kepada penerima.
I. Metodologi
Penelitian
a.
Tempat
dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian
ini dilaksanakan di SD Negeri 01 Tegalsari Semarang. Alasan pemilihan tempat
ini adalah karena banyak sekali masalah yang muncul.
2. Waktu
Penelitian
ini dilaksanakan pada semester gasal tahun 2013, lebih tepatnya bulan Agustus
tahun pelajaran 2013/2014.
b. Subyek Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan pada siswa kelas II SD Negeri Tegalsari 03 Semarang tahun pelajaran
2013/2014, dimana jumlah keseluruhan siswa kelas II ini ada 17 siswa, siswa
perempuan berjumlah 9 anak dan siswa laki-laki berjumlah 8 anak.
c. Bentuk Penelitian
Bentuk
penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom
Action Research (CAR) yaitu suatu penelitian tindakan yang dilakukan di
kelas.
Menurut
Supardi dan Suhardjono (2011: 17) penelitian tindakan kelas adalah penelitian
tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran sedang
berlangsung. PTK dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan
kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran
yang terjadi di dalam kelas.
d. Sumber Data
Sumber
data dalam penelitian ini guru kelas V SDNegeri
Tegalarum yang bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar siswa di kelas dan
data yang diperoleh dari teman sejawat bertujuan untuk mengetahui perilaku
kerja sama dalam lingkungan belajar.
Selain
itu informasi juga digali dari berbagi sumber data dan jenis data yang lain
meliputi:
1. arsip,
daftar nilai, rapor siswa, catatan pribadi siswa;
2. tes
hasil belajar.
e.
Metode
Penelitian
Sesuai dengan bentuk
penelitian dan sumber data yang dimanfaatkan, maka metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.
Non Tes
a.
Observasi
Menurut Sutrisno Hadi
(Sugiyono, 2010: 203), observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu
proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara
yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Teknik pengumpulan
data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku
manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak
terlalu besar. Menurut Sugiyono (2010: 205), dari segi instrumentasi yang
digunakan, observasi dapat dibedakan menjadi berikut ini:
1)
Observasi
terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah
dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana
tempatnya. Jadi, observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu
dengan pasti tentang variabel apa yang akan diamati. Observasi terstruktur
menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap pakai, sehingga
pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda centang (√) pada tempat yang
disediakan.
2)
Observasi tidak
terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang
tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini
dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan
diamati. Oleh karena itu, peneliti dapat melakukan pengamatan bebas, mencatat
apa yang menarik, melakukan analisis dan kemudian dibuat kesimpulan.
Dalam penelitian ini,
observasi dilakukan dengan menggunakan metode observasi terstruktur. Observasi
dilakukan terhadap siswa kelas V SDNegeri Tegalarum. Observasi terhadap siswa
dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial dengan model pembelajaran ARIAS dan penggunaan media kartu gambar.
b.
Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal
katanya dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan
metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti
buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan
harian, dan sebagainya (Arikunto, 2010: 201).
Dokumentasi bertujuan
untuk mengungkapkan fakta atau kenyataan pada saat pelaksanaan tindakan.
2.
Tes
Menurut Suharsimi
Arikunto (2010: 193), tes sebagai teknik pengumpul data adalah serangkaian
pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan,
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Macam
tes ditinjau dari sasaran atau objek yang akan dievaluasi, dapat dibedakan
menjadi: (1) tes kepribadian atau personality
test, (2) tes bakat atau aptitude
test, (3) tes inteligensi atau intelligence
test, (4) tes sikap atau attitude
test, (5) teknik proyeksi atau projective
technique, (6) tes minat atau measures of interest, dan (7) tes
prestasi atau achievement test.
Tes yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tes prestasi atau achievement
test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah
mempelajari sesuatu sehingga dapat diketahui apakah model pembelajaran ARIAS
dan media kartu gambar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam
pembelajaran IPS pada siswa kelas V SDN Tegalarum. Tes ini disajikan dalam
bentuk pilihan ganda dengan jumlah 30 butir soal, dimana tes ini akan diberikan
pada setiap akhir pembelajaran setelah diajarkan materi mengenai
peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha
dan Islam di Indonesia.
f.
Instrumen
Penelitian
Menurut
Suharsimi Arikunto (2010: 192), instrumen penelitian merupakan alat bantu yang
digunakan untuk memperoleh data penelitian sesuai dengan metode yang digunakan.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.
Non
Tes
a. Lembar
Observasi (check-list)
Lembar observasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran IPS. Lembar
observasi keterlaksanaan pembelajaran IPS berbentuk check-list dengan
pilihan jawaban “ya” atau “tidak”, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan
tanda centang (√) pada tempat yang disediakan. Lembar observasi digunakan untuk
mengetahui kemampuan belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
dengan model pembelajaran ARIAS dan penggunaan media kartu gambar.
b. Pedoman
Dokumentasi
Dokumentasi dalam penelitian ini
berbentuk catatan lapangan yang merupakan catatan tertulis tentang segala
sesuatu yang berisi hal-hal yang terjadi selama proses pembelajaran di kelas.
Hal-hal yang dicatat antara lain suasana kelas, pengelolaan kelas, interaksi
guru dengan siswa, dan peningkatan prestasi belajar siswa yang ditunjukkan
dengan aktivitas siswa yang aktif dalam proses pembelajaran.
2.
Tes
Instrumen tes yang digunakan untuk
mengukur prestasi belajar siswa berupa soal tes prestasi. Tes prestasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis untuk mengetahui skor
peningkatan prestasi individu. Tes diberikan pada akhir pembelajaran kepada
masing-masing siswa. Tes dikerjakan secara individu. Tes ini berupa soal
pilihan ganda yang berjumlah 30 butir soal.
g.
Validitas
Data
Menurut Arikunto (2010: 211), validitas adalah suatu
ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu
instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya,
instrumen yang kurang valid atau kurang sahih memiliki validitas rendah. Sebuah
instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan, dapat
mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Dalam penelitian ini
untuk menjamin kesahihan data dan mengembangkan validitas data yang dikumpulkan
dalam penelitian ini adalah menggunakan trianggulasi data (sumber) yaitu
mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. Misalnya
dibalik data yang berupa informasi, arsip dan peristiwa. Selain itu, dalam penelitian ini proses validasi data juga
dilakukan dengan meminta penilaian terhadap para ahli dan
praktisi berkenaan dengan isi dari observasi yang digunakan sebagai alat pengumpul data, sehingga
alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam
penelitian ini, kevalidannya benar-benar dapat
dipertanggungjawabkan.
h.
Uji
Instrumen
Instrumen dalam penelitian ini berupa soal tes
berbentuk pilihan ganda. Soal tes tersebut
adalah tes yang diberikan setelah materi pokok bahasan
peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha
dan Islam di Indonesia selesai disampaikan dengan menggunakan model
pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar. Prosedur yang akan ditempuh dalam
pengadaan instrumen adalah:
1. Mengadakan pembatasan terhadap materi yang akan diteskan.
2. Menentukan
tipe soal yaitu pilihan ganda.
3. Menentukan
jumlah butir soal dan waktu yang disediakan untuk menyelesaikan soal-soal tes.
4. Pembuatan
kisi-kisi soal.
5. Penulisan
butir soal.
6. Melengkapi
instrumen dengan petunjuk dan kunci jawaban.
7. Uji
coba soal tes, soal tes diujicobakan dahulu dengan melakukan try out di kelas lain.
8. Penganalisaan
hasil yaitu menganalisa item soal yang diujicobakan. Penganalisaan hasil
ini dilakukan
dengan cara mengukur dan menghitung validitas,
reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembedanya. Secara umum diuraikan
sebagai berikut:
a. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang
menunjukkan tingkat validitas suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid
mempunyai validitas yang tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti
mempunyai validitas rendah. Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilai
(instrumen) terhadap aspek yang dinilai sehingga benar-benar menilai apa yang
seharusnya dinilai.
Validitas adalah suatu ukuran yang
menunjukkan tingkat validitas suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid
mempunyai validitas yang tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti
mempunyai validitas rendah. Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilai
(instrumen) terhadap aspek yang dinilai sehingga benar-benar menilai apa yang
seharusnya dinilai.
Validitas empiris dari tes ini
dicari validitasnya butir soal dengan menggunakan korelasi antara skor butir
soal tersebut dengan skor total. Untuk menghitung validitas butir soal
digunakan rumus korelasi product moment, sebagai berikut:
Keterangan :
:
Koefisien korelasi antara x dan y
N : Jumlah subjek atau siswa yang
diteliti
ΣX : Skor tiap butir soal
ΣY : Skor total
: Jumlah kuadrat
skor butir soal
: Jumlah kuadrat skor
total
Setelah didapat harga
, kemudian dikonsultasikan dengan harga
ktitik
yang ada pada tabel dengan taraf nyata 5%.
Apabila
lebih besar dari harga
tabel, maka butir soal tersebut dinyatakan valid. Namun, apabila
lebih kecil dari harga tabel, maka butir soal
tersebut dinyatakan tidak valid (Arikunto, 2010: 213).
b. Reliabilitas
Reliabilitas artinya dapat
dipercaya atau diandalkan. Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 221), suatu tes
dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat
memberikan hasil yang tetap. Untuk keperluan mencari reliabilitas butir soal
pilihan ganda, maka rumus yang digunakan adalah rumus Spearman-Brown, dimana
jumlah soal pilihan ganda ini ada 30 butir soal yang akan diuji reliabilitasnya
dengan uji belah ganjil-genap. Menurut Arikunto (2010: 223), langkah-langkah uji
reliabilitas dengan rumus Spearman-Brown
(belah ganjil-genap) adalah sebagai berikut:
1) Membuat
tabel analisis butir soal atau butir pertanyaan.
2) Mengelompokkan
skor-skor menjadi dua belahan bagian ganjil dan bagian genap.
3) Belahan
bagian yang bernomor ganjil sebagai belahan pertama dan belahan bagian yang
bernomor genap sebagai belahan kedua.
4) Mengkorelasikan
skor belahan pertama dengan skor belahan kedua sehingga diperoleh harga
.
5) Harga
merupakan
indeks korelasi yang diperoleh baru menunjukkan hubungan antara dua belahan
instrumen, maka untuk memperoleh indeks reliabilitas soal masih harus
menggunakan rumus Spearman-Brown, yaitu:
Keterangan:
: reliabilitas instrumen
:
yang
disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan instrumen
6) Mengkonsultasikan
harga
dengan tabel
. Jika harga
kurang dari
(taraf kesukaran 5%), maka instrumen
dinyatakan tidak reliabel. Tetapi apabila harga
lebih dari harga
, maka instrumen dinyatakan reliabel.
c. Tingkat
Kesukaran
Soal
yang baik adalah soal yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Soal
yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk meningkatkan usaha
menyelesaikannya, soal yang terlalu sukar atau menyebabkan siswa menjadi putus
asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauan.
Indeks kesukaran soal adalah bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya
suatu soal. Menurut Arikunto (2009: 207), untuk menghitung tingkat kesukaran
soal pilihan ganda, yang digunakan adalah rumus:
Keterangan:
P : indeks kesukaran
B : banyaknya siswa yang menjawab benar
JS : jumlah seluruh siswa
peserta tes
Untuk
menginterprestasikan nilai tingkat kesukaran itemnya dapat digunakan kriteria sebagai berikut:
1. Jika
soal dengan P adalah 1,00 sampai 0,30 maka soal sukar.
2. Jika
soal dengan P adalah 0,30 sampai 0,70 maka soal sedang.
3. Jika
soal dengan P adalah 0,70 sampai 1,00 maka soal mudah.
d. Daya
Pembeda
Daya pembeda adalah pengukuran
sejauh mana suatu soal mampu membedakan antara siswa yang pandai (kelompok atas) dengan siswa yang
kurang pandai (kelompok bawah). Suatu soal dianggap baik bila siswa yang pandai
dapat menjawab dengan benar dan siswa yang kurang pandai menjawab salah,
semakin besar daya pembeda soal maka soal tersebut semakin baik. Teknik yang
digunakan untuk menghitung daya pembeda bentuk soal pilihan ganda adalah
sebagai berikut:
Keterangan :
D :
daya pembeda soal
:
banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab benar
:
banyaknya siswa kelompok atas
:
banyaknya
siswa kelompok bawah yang menjawab benar
:
banyaknya siswa kelompok bawah
:
proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
: proporsi peserta kelompok bawah yang
menjawab benar
Untuk menginterprestasikan nilai
tingkat kesukaran itemnya dapat digunakan kriteria sebagai berikut:
1.
Jika D ≤ 0,00 adalah soal sangat jelek,
tidak baik.
2.
Jika 0,00 < D ≤ 0,20 adalah soal
jelek.
3.
Jika 0,20 < D ≤ 0,40 adalah soal
cukup baik.
4.
Jika 0,40 < D ≤ 0,70 adalah soal
baik.
5.
Jika 0,70 < D ≤ 1,00 adalah soal
sangat baik. (Arikunto, 2009: 211)
i.
Analisis
Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah model analisis interaktif. Menurut Huberman (Sutopo, 1996: 186)
mengemukakan bahwa analisis data dalam penelitian adalah model analisi
interaktif yang mempunyai tiga komponen yaitu: 1) sajian data, 2) reduksi data,
dan 3) penarikan kesimpulan atau verifikasi data masih berlangsung.
Untuk jelasnya proses analisis interaktif dapat digambarkan
dengan skema berikut:
|
Reduksi
Data
|
|
Pengumpulan
Data
|
|
Sajian
Data
|
|
Penarikan
Simpulan atau Verifikasi Data
|
Model Analisis Interaktif (Sutopo,
1996: 186)
Langkah-langkah
analisis data adalah:
a. Melakukan
analisis awal bila data yang didapatkan di kelas sudah cukup maka dapat
dikumpulkan.
b. Mengembangkan
bentuk sajian data dengan menyusun koding
dan matrik yang berguna untuk penelitian lanjutan.
c. Melakukan
analisis data di kelas dan mengembangkan matrik antar kasus.
d. Melakukan
verifikasi, pengayaan dan pendalaman data. Apabila dalam persiapan analisis
ternyata ditemukan data yang kurang lengkap atau kurang jelas, maka perlu
dilakukan pengumpulan data lagi secara lebih terfokus.
e. Melakukan
analisis antar kasus, dikembangkan struktur sajian datanya bagi susunan
laporan.
f. Merumuskan
kesimpulan akhir sebagai temuan penelitian.
g. Merumuskan
implikasi kebijaksanaan sebagai bagian dari pengembangan saran dalam akhir
penelitian.
j.
Rencana
dan Prosedur Penelitian
a. Rencana
Penelitian
Berdasarkan masalah yang diajukan dalam penelitian ini
yang lebih menekankan pada masalah perbaikan proses pembelajaran di kelas maka
bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Dengan menggunakan
penelitian tindakan kelas ini peneliti berharap akan mendapat informasi yang
sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan pembelajaran di kelas secara lebih baik.
b. Prosedur
Penelitian
Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari
siklus-siklus. Tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahannya yang
dicapai, seperti yang telah dibuat dalam faktor-faktor yang diselidiki. Untuk
mengetahui permasalahan yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa dalam
pembelajaran IPS siswa kelas V SDNegeri Tegalarum Kecamatan Jaken Kabupaten
Pati dilakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru.
Melalui langkah-langkah tersebut akan dapat ditentukan tindakan yang tepat
dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS di SD.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini
dapat dijabarkan dalam uraian berikut:
1) Siklus
I
a) Tahap
Perencanaan
Kegiatan
perencanaan ini meliputi tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan
bagaimana tindakan tersebut akan dilakukan. Rancangan harus dilakukan bersama
antara guru yang akan melakukan tindakan dan peneliti yang akan mengamati
proses jalannya tindakan. Kegiatan perencanaan tindakan meliputi:
i. Peneliti
menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan Standar Kompetensi: Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang
berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam
dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia; dan Kompetensi
Dasar: Mengenal makna peninggalan-peninggalan
sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
ii. Peneliti
mempersiapkan fasilitas dan sarana yang diperlukan dalam pembelajaran seperti sumber
belajar, LKS dan lembar soal sebagai latihan siswa.
iii. Peneliti
menyiapkan lembar observasi kegiatan pengamatan aktivitas siswa dalam
pembelajaran.
iv. Peneliti
menyiapkan peralatan seperti kamera untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan
selama proses pembelajaran.
v. Membuat
media kartu gambar.
vi. Peneliti
menyiapkan lembar evaluasi untuk siswa.
b) Tahap
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan merupakan penerapan dari perencanaan
yang telah dibuat yang dapat berupa sesuatu penerapan model pembelajaran
tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki atau menyempurnakan model yang sedang
dijalankan. Tahap pelaksanaan meliputi:
i. Melaksanakan
proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
ii. Menjelaskan
kompetensi yang akan dicapai pada pokok pelajaran hari itu.
iii. Membahas
materi pelajaran.
iv. Menggunakan
model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dalam proses pembelajaran.
v. Membimbing
siswa untuk dapat mengisi lyric lagu
yang hilang dari lagu materi yang dinyanyikan di dalam kartu gambar.
vi. Mengadakan
evaluasi.
vii. Mengumpulkan
hasil kerja siswa.
c) Tahap
Pengamatan (Observasi)
Observasi merupakan pengamatan yang
dilakukan secara langsung pada siswa untuk melihat dari dekat kegiatan yang
dilakukan. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang
berfungsi untuk melihat dan mendokumentasikan pengaruh-pengaruh yang
diakibatkan oleh tindakan di dalam kelas. Tahap pengamatan meliputi:
(1) Melakukan
observasi dengan menggunakan format observasi.
(2) Mencatat
semua perubahan yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan guru.
(3) Menilai
hasil tindakan dengan mengunakan format LKS.
Observasi diarahkan pada poin-poin yang
telah ditetapkan dalam indikator.
i. Indikator
keberhasilan guru yang ingin dicapai adalah :
(a) Cara
menyampaikan materi pelajaran.
(b) Cara
pengelolaan kelas.
(c) Cara-cara
penggunaan alat-alat pelajaran.
(d) Suara
guru dalam menyampaikan pelajaran.
(e) Cara
guru menyampaikan bimbingan individual yang dibutuhkan.
(f) Waktu
yang diperlukan guru.
(g) Penampilan
guru di depan kelas.
ii. Indikator-indikator
keberhasilan siswa yang ingin dicapai adalah:
(a) Minat
dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS.
(b) Keaktifan
siswa dalam pembelajaran IPS.
(c) Kemampuan
siswa dalam mengisi lagu yang rumpang sesuai materi yang diajarkan.
(d) Banyaknya
siswa yang bertanya.
(e) Peningkatan
kemampuan siswa bekerjasama dan mendemostrasikan pengetahuan yang telah
dikonstruksi.
(f) Ketepatan
dan kecepatan dalam mengerjakan soal.
d) Tahap
Refleksi
Refleksi bertujuan untuk mengetahui
kekurangan-kekurangan maupun kelebihan-kelebihan yang terjadi selama proses
pembelajaran di siklus I. Kekurangan-kekurangan yang terjadi selama proses
pembelajaran digunakan untuk bahan perbaikan pada siklus berikutnya. Sedangkan
kelebihan-kelebihannya dipertahankan dan dikembangkan untuk menjadi keunggulan
pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah peneliti
mengumpulkan dan menganalisis data yang diperoleh selama peneliti melakukan
observasi, yaitu meliputi data yang diperoleh dari hasil observasi siswa, hasil
tes, dan catatan lapangan. Hasil analisa digunakan untuk mengetahui kekurangan
maupun ketercapaian pada siklus I. Data dan informasi yang diperoleh pada
kegiatan siklus I digunakan sebagai pertimbangan perencanaan pembelajaran
siklus berikutnya yang diharapkan lebih baik dari siklus sebelumnya.
Refleksi dilakukan setelah mengadakan pengamatan yang
dilakukan oleh guru kelas V terhadap pembelajaran yang telah terjadi. Jika
dalam pembelajaran pada siklus I tentang mengisi lyric lagu yang rumpang sesuai materi didapatkan suatu kendala
yaitu adanya nilai siswa yang belum mencapai hasil yang diharapkan atau
tindakan belum tercapai secara optimal, maka perlu adanya perbaikan pada siklus
II.
2)
Siklus II
Siklus ini dilakukan berdasarkan hasil refleksi pada siklus
I. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
a)
Tahap Perencanaan, meliputi:
i. Identifikasi
masalah atas kelemahan dan kekurangan pada siklus I. Dari refleksi hasil
kegiatan pada siklus I, sebagai dasar untuk menyusun merencanakan siklus II.
ii. Merencanakan
dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
iii. Peneliti
menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan Standar Kompetensi: Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang
berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam
dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia; dan Kompetensi
Dasar: Mengenal makna peninggalan-peninggalan
sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
iv. Peneliti
mempersiapkan fasilitas dan sarana yang diperlukan dalam pembelajaran seperti
sumber belajar, LKS dan lembar soal sebagai latihan siswa.
v. Peneliti
menyiapkan lembar observasi kegiatan pengamatan aktivitas siswa dalam
pembelajaran.
vi. Peneliti
menyiapkan peralatan seperti kamera untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan
selama proses pembelajaran.
vii. Membuat
kartu gambar.
viii.
Peneliti memadukan hasil refleksi daur siklus I
agar daur siklus II lebih efektif.
ix. Peneliti
menyiapkan lembar evaluasi untuk siswa.
x. Pengembangan
dan memperbaiki kesalahan atau kelemahan pada siklus I.
xi. Menyusun
kegiatan program tindakan II akibat kelemahan pada siklus I.
b)
Tahap Pelaksanaan Tindakan, meliputi:
i. Melaksanakan
proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
ii. Menjelaskan
kompetensi yang akan dicapai pada pokok pelajaran hari itu.
iii. Membahas
materi pelajaran.
iv. Menggunakan
model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dalam proses pembelajaran.
v. Membimbing
siswa untuk dapat mengisi lyric lagu
yang masih rumpang sesuai materi yang diajarkan, dengan memadukan hasil
refleksi daur siklus I agar daur siklus II lebih efektif.
vi. Mengadakan
evaluasi.
vii. Mengumpulkan
hasil kerja siswa.
c)
Tahap Pengamatan (Observasi), meliputi:
(1) Melakukan
observasi dengan menggunakan format observasi.
(2) Mencatat
dan merekam semua perubahan yang terjadi dari siklus I ke siklus II akibat
tindakan II yang dilakukan guru.
(3) Menilai
hasil tindakan dengan mengunakan format LKS.
Observasi diarahkan pada poin-poin yang telah ditetapkan
dalam indikator.
i. Indikator
keberhasilan guru yang ingin dicapai adalah:
(a) Cara
menyampaikan materi pelajaran.
(b) Cara
pengelolaan kelas.
(c) Cara-cara
penggunaan alat-alat pelajaran.
(d) Suara
guru dalam menyampaikan pelajaran.
(e) Cara
guru menyampaikan bimbingan kelompok yang dibutuhkan.
(f) Waktu
yang diperlukan guru.
(g) Penampilan
guru di depan kelas.
ii. Indikator-indikator
keberhasilan siswa yang ingin dicapai adalah:
(a) Minat
dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS.
(b) Keaktifan
siswa dalam pembelajaran IPS.
(c) Kemampuan
siswa dalam mengisi lyric lagu yang
rumpang sesuai materi yang diajarkan.
(d) Banyaknya
siswa yang bertanya.
(e) Peningkatan
kemampuan siswa bekerjasama dan mendemostrasikan pengetahuan yang telah di
konstruksi.
(f) Ketepatan
dan kecepatan dalam mengerjakan soal.
d)
Tahap Refleksi
Dari hasil penelitian pada siklus II, dilakukan evaluasi dan analisis
dengan cara melihat prestasi atau nilai siswa. Kemudian hasil analisis pada
siklus II digunakan sebagai kesimpulan dari penelitian. Apakah dengan
menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami
perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan
tercapai sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
3)
Siklus III
Siklus ini dilakukan berdasarkan hasil refleksi pada siklus
II. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :
a)
Tahap Perencanaan, meliputi:
i. Peneliti
menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan Standar Kompetensi: Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang
berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam
dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia; dan Kompetensi
Dasar: Mengenal makna peninggalan-peninggalan
sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
ii. Peneliti
mempersiapkan fasilitas dan sarana yang diperlukan dalam pembelajaran seperti
sumber belajar, LKS dan lembar soal sebagai latihan siswa.
iii. Peneliti
menyiapkan lembar observasi kegiatan pengamatan aktivitas siswa dalam
pembelajaran.
iv. Peneliti
menyiapkan peralatan seperti kamera untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan
selama proses pembelajaran.
v. Membuat
kartu gambar.
vi. Peneliti
memadukan hasil refleksi daur siklus II agar daur siklus III tidak menurun atau
lebih efektif.
vii. Peneliti
menyiapkan lembar evaluasi untuk siswa.
b)
Tahap Pelaksanaan Tindakan, meliputi:
i. Melaksanakan
proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
ii. Menjelaskan
kompetensi yang akan dicapai pada pokok pelajaran hari itu.
iii. Membahas
materi pelajaran.
iv. Menggunakan
model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar.
v. Membimbing
siswa untuk dapat mengisi lyric lagu
yang masih rumpang sesuai materi yang diajarkan, dengan memadukan hasil
refleksi daur siklus II agar daur siklus III tidak menurun atau lebih efektif.
vi. Mengadakan
evaluasi.
vii. Mengumpulkan
hasil kerja siswa.
c)
Tahap Pengamatan (Observasi), meliputi:
(1) Melakukan
observasi dengan menggunakan format observasi.
(2) Mencatat
dan merekam semua aktivitas yang terjadi dari siklus II ke siklus III akibat
tindakan III yang dilakukan guru.
(3) Menilai
hasil tindakan dengan mengunakan format LKS.
Observasi diarahkan pada poin-poin yang telah ditetapkan
dalam indikator.
i. Indikator
keberhasilan guru yang ingin dicapai adalah:
(a) Cara
menyampaikan materi pelajaran.
(b) Cara
pengelolaan kelas.
(c) Cara-cara
penggunaan alat-alat pelajaran.
(d) Suara
guru dalam menyampaikan pelajaran.
(e) Cara
guru menyampaikan bimbingan kelompok yang dibutuhkan.
(f) Waktu
yang diperlukan guru.
(g) Penampilan
guru di depan kelas.
ii. Indikator-indikator
keberhasilan siswa yang ingin dicapai adalah:
(a) Minat
dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS.
(b) Keaktifan
siswa dalam pembelajaran IPS.
(c) Kemampuan
siswa dalam mengisi lyric lagu yang
rumpang sesuai materi yang diajarkan.
(d) Banyaknya
siswa yang bertanya.
(e) Peningkatan
kemampuan siswa bekerjasama dan mendemostrasikan pengetahuan yang telah di
konstruksi.
(f) Ketepatan
dan kecepatan dalam mengerjakan soal.
d)
Tahap Refleksi
Dari hasil penelitian pada siklus III, dilakukan analisis
dengan cara melihat prestasi atau nilai siswa. Kemudian hasil analisis pada
siklus III digunakan sebagai kesimpulan dari penelitian. Apakah dengan
menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dapat melestarikan
peningkatan prestasi belajar siswa. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan
mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah
ditetapkan tercapai sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Apabila pada
siklus II, telah terbukti bahwa model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, maka siklus III ini sebagai
pelestari peningkatan prestasi belajar siswa terhadap pembelajaran IPS dengan
menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar.
Dari rincian prosedur penelitian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa mekanisme kerja diwujudkan dalam bentuk siklus (direncanakan
3 siklus) yang setiap siklusnya tercakup 4 kegiatan (tahap), yaitu:
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:
|
Perencanaan
1
|
|
Siklus
I
|
|
Refleksi
|
|
Pelaksanaan
|
|
Pengamatan
|
|
Perencanaan
2
|
|
Pelaksanaan
|
|
Pengamatan
|
|
Siklus
II
|
|
Refleksi
|
|
Perencanaan
3
|
|
Pelaksanaan
|
|
Pengamatan
|
|
Refleksi
|
|
Siklus
III
|
Penelitian
Tindakan Kelas Mode Kemmis dan Mc Taggart (Arikunto, 2010: 137)
Bila hasil refleksi dan evaluasi siklus I menunjukkan adanya
peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas V
SD, maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus II atau dapat dilanjutkan ke
siklus II tetapi siklus II sebagai pelestari peningkatan prestasi belajar siswa.
Namun, apabila pada siklus I belum memperlihatkan adanya peningkatan prestasi
belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas V SD, maka dibuat siklus
II yang meliputi: tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap
observasi tindakan dan tahap refleksi. Demikian juga untuk siklus III, apabila dalam
pembelajaran belum ada peningkatan maka siklus dilanjutkan sampai prestasi
belajar siswa dalam pembelajaran IPS menunjukkan adanya peningkatan atau
meningkat. Namun, dalam penelitian ini, siklus III dimaksudkan untuk
melestarikan siklus II jika hasilnya mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.
Menurut Supardi dan Suhardjono (2011: 60), dalam penelitian
tindakan kelas sebaiknya tidak terlalu banyak siklus penelitiannya dan tiap
siklus tidak boleh hanya satu kali pertemuan. Oleh karena itu, agar tidak
terlalu banyak siklus, maka guru dapat mempersiapkan skenario pelaksanaan
tindakan yang sebaik mungkin. Seyogyanya maksimum tiga siklus.
DAFTAR
PUSTAKA
Agustin,
Rifqi Dian. 2011. Penerapan Model
Pembelajaran ARIAS Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Siswa
IIIA SDN Purwantoro 2 Kota Malang. Skripsi.
http://library.um.ac.id. Diakses tanggal 8 Juni 2012.
Arikunto,
Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Beard,
Ruth M. dan Senior, Isabel J. 1980. Motivating
students. London: Routledge and Kegan Paul Ltd.
Bohlin,
Roy M. 1987. Motivation in instructional design: Comparison of an American and
a Soviet model. Journal of Instructional
Development. Vol. 10 (2), 11-14.
Callahan,
Sterling G. 1966. Successful teaching in
secondary schools. Chicago: Scott, Foreman and Company.
Campbell,
Don. 2002. Efek Mozart Bagi Anak-anak. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama .
DeCecco,
John P. 1968. The psychology of learning
and instructions: Educational psychology. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Dimyati
dan Erwin Setyo Kriswanto. 2009. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam
Pelajaran Pendidikan Jasmani Melalui Aplikasi Model Pembelajaran ARIAS. Proceeding, Diseminasi Hasil-Hasil
Penelitian Tingkat Nasional. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas
Negeri Yogyakarta.
Gagne,
Robert M, dan Briggs, Leslie J. 1979. Principles
of instructional design. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Gagne,
Robert M. dan Driscoll, Marcy P. 1988. Essentials
of learning for instruction. Englewood Cliffs, NJ.: Prentice-Hall, Inc.
Hendorn, James N. 1987. Learner interests, achievement, and
continuing motivation in instruction. Journal
of Instructional Development. Vol. 10 (3), 11-14.
Hilgard, Ernest R. dan Bower, Gordon H. 1975. Theories of learning. Englewood Cliffs,
NJ: Prentice Hall, Inc.
Hopkins, Charles D. dan Antes, Richard L. 1990. Classroom measurement and evaluation.
Itasca, Illinois: F.E. Peacock Publisher, Inc.
Indiati,
Intan dan Listyaning Sumardiyani. 2011. Reflective
Microteaching. Semarang: IKIP PGRI SEMARANG Press.
Joyce
dan Weil. 1986. Models Of Teaching.
New York: John Willey and Son.
Keller,
John M. 1987. Development and use of ARCS model of instructional design. Journal of Instructional Development.
Vol. 10 (3), 2-9.
Keller,
John M. dan Thomas W. Kopp. 1987. An
application of the ARCS model of motivational design. Hillsdale, NJ:
Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Lefrancois,
Guy R. 1982. Psychology for teaching.
Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company.
McClelland, David C. 1987. Memacu masyarakat berprestasi. Terjemahan Siswo Suyanto dan W.W.
Bakowatun. Jakarta: CV Intermedia.
Morris,
William (ed) 1981. The American heritage
dictionary of English language. Boston: Houghton Miflin Company.
Nasution,
Noehi, Et. all. 1998. Materi Pokok Psikologi
Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam
dan Universitas Terbuka.
Prayitno,
Elida 1989. Motivasi dalam belajar.
Jakarta: PPPLPTK.
Rahmatina.
2007. Penggunaan Permainan dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Jurnal Kependidikan. XVI (1), 83-85.
Reigeluth,
Charles M. dan Curtis Ruth V. 1987. Learning
situations and instructinal models. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum
Associates, Publishers.
Sadiman,
Arief S., dkk. 2011. Media Pendidikan.
Jakarta: Rajawali Pers.
Satrio,
Adi. 2005. Kamus Ilmiah Populer.
Visi7.
Slameto.
2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Sopah,
D. 2007. Model Pembelajaran ARIAS. Disertasi. PPS-IKIP Jakarta. http://gurupkn.wordpress.com/2007/12/22/model-pembelajaran-arias/.
Diakses tanggal 1 Juni 2012.
Sugiyono.
2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:
Alfabeta.
Sulistianingsih,
Marlina. 2011. Indikator Prestasi Belajar. Artikel.
http://marlinasulistianingsih.blogspot.com/2011/04/indikator-prestasi-belajar.html.
Diakses tanggal 27 Juni 2012.
Supardi dan
Suhardjono. 2011. Strategi Menyusun
Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: ANDI Offset.
Sutopo,
HB. 1996. Metode Penelitian Kualitatif.
Surakarta: UNS Press.
Wisanggeni.
2011. Arti Pengertian dan Definisi Prestasi Belajar. Artikel. http://mahera.net/2011/01/arti-pengertian-definisi-prestasi-belajar/.
Diakses tanggal 10 April 2012.