Sabtu, 02 Januari 2016

PROPOSAL PENELITIAN PTK

PROPOSAL PENELITIAN







MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MEDIA ULAR TANGGA PADA SISWA KELAS 2 SD NEGERI TEGASARI 03 SEMARANG

Oleh:
1.      ISMAWATI                                (10120207)




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI SEMARANG
2013




Judul
Penelitian ini dengan judul: “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Media Ular Tangga Pada Siswa Kelas 2 SDNegeri Tegasari 03 Semarang”.
A.  Latar Belakang Masalah

                   Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan ( Depdiknas, 2006:15) menjelaskan,” Tujuan diberikannya matematika antara lain agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional kritis, cermat, jujur dan efektif”. Hal tersebut merupakan tuntutan konkrit yang hanya dapat diwujudkan dengan upaya yang keras dan gigih dari para pendidik kepada siswa, karena itu diperlukan suatu rancangan pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif yang dapat memaksimalkan kemampuan siswa.
                   Siswa mempelajari matematika diharapkan mampu menguasai materi matematika. Untuk menguasai materi matematika, siswa terlebih dahulu harus menguasai konsep prasyarat bagi materi yang akan dan sedang akan dipelajari. Suherman (1994:17) menemukakan “Konsep prasyarat merupakan suatu prinsip atau konsep yang telah dipelajari dan menunjang pada konsep atau prinsip yang sedang dipelajari sehingga materi yang dipelajari lebih bermakna” ini berarti dalam belajar matematika, siswa harus memiliki kesiapan pemahaman terhadap konsep prasyarat sebelum mempelajari konsep yang lebih kompleks agar proses belajar yang dilaluinya lebih berhasil. Oleh karena itu kesiapan siswa dalam penguasaan konsep-konsep prasyarat akan mempengaruhi penguasaan konsep selanjutnya.
                   Supaya siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna, guru harus mampu memilih strategi dan pendekatan yang tepat, sesuai dengan kompetensi dasar yang diwajibkan. Pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan KTSP adalah pendekatan pembelajaran yang dapat lebih memberdayakan kemampuan siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka.
                   Untuk membuat suasana pembelajaran yang lebih bermakna konsep yang jelas harus diberikan secara tepat kepada siswa. Kenyataan yang ada di lapangan, khususnya di SDN Tegalsari 03 Semarang, menunjukkan bahwa di dalam suatu kelas ketika proses pembelajaran sedang berlangsung, ada beberapa atau sebagian besar siswa belum belajar sewaktu guru mengajar. Selama proses pembelajaran, seorang guru belum memanfaatkan seluruh potensi keterampilan dirinya dalam mengajar sehingga sebagian besar siswa belum mampu mencapai tingkat kriteria yang dituju. Sebagian siswa belum memahami materi pelajaran yang diajarkan oleh guru mereka (Linda, A.Md., salah satu guru kelas di SDN Tegalsari 03 Semarang).
                   Salah satu masalah ada pada pelajaran matematika KD 1.2 yaitu mengurutkan bilangan sampai 500. Pada KD ini, siswa mengalami kesulitan untuk mengurutkan bilangan loncat. Hal ini terlihat dari kesulitan siswa menyelesaikan soal matematika yang terkait dengan bilangan  loncat. Pada pembelajaran matematika kelas II di SDN Tegalsari 03 Semarang dengan materi mengurutkan bilangan loncat yang didasarkan pada rata-rata tes kemampuan awal , diperoleh data bahwa sebagian besar siswa kelas II SDN Tegalsari 03 Semarang hasilnya masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM=70,00).
                   Untuk mendorong anak supaya dapat meningkatkan hasil belajar  tentang materi bilangan loncat. peneliti berkeyakinan bahwa media Ular Tangga ini akan berhasil denan didasarkan pada asumsi bahwa media ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya penggunaan angka yang berwarna-warni yang biasanya disukai anak, memanfaatkan aktivitas gerak pada anak, mudah digunakan, kreatif dan inovatif serta dapat digunakan secara berkelompok.

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka dapat diketahui adanya banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika melalui media Ular Tangga pada siswa kelas II SDN Tegalsari 03 Semarang Tahun 2013, diantaranya adalah:
1.    Kurangnya pemahaman siswa terhadap materi matematika.
2.    Sebagian besar siswa belum belajar sewaktu guru mengajar.
3.    Minat siswa dalam mengikuti pelajaran matematika masih sangat minim.
4.    Pembelajaran matematika hanya dengan menggunakan metode ceramah (konvensional) dan penugasan dalam bentuk LKS.
5.    Guru belum menggunakan bantuan media atau alat peraga yang inovatif dan kreatif dalam proses pembelajaran.
6.    Tujuan pembelajaran belum tercapai secara maksimal.

C.  Pembatasan Masalah
Penerapan kegiatan pembelajaran dengan media ular tangga sebenarnya dapat dilakukan di semua mata pelajaran. Namun, berdasarkan identifikasi masalah yang telah disebutkan di atas, maka peneliti mempersempit permasalahan dalam pembatasan masalah supaya penelitian yang dilakukan lebih spesifik dan lebih fokus. Sehingga pemasalahan yang hendak dikaji adalah rendahnya prestasi belajar siswa pada pembelajaran matematika kelas II Sekolah Dasar khususnya pada pembahasan materi bilangan loncat di SDN II Tegalasi 03 Semarang tahun 2013. Sedangkan prestasi belajar siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa, baik dari nilai ulangan harian maupun nilai tugas serta keaktivan siswa dalam proses pembelajaran dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan atau soal dari guru.

D.  Perumusan Masalah
1.    Apakah pembelajaran dengan menggunakan media ular tangga dapat mencapai ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran matematika kelas II SDN Tegalsari 03 Semarang tahun 2013?

E.  Pemecahan Masalah
Adanya hasil belajar siswa yang rendah dalam pembelajaran matematika, hal ini dikarenakan pembelajaran yang dilaksanakan guru masih bersifat konvensional yang hanya berceramah dan menggunakan papan tulis dan latihan di buku sebagai kegiatan siswa, sehingga siswa kurang tertarik dalam mengikuti pelajaran, hal ini juga mengakibatkan siswa kurang mengerti makna dan tujuan dari pembelajaran sehingga matematika selalu dianggap sebagai mata pelajaran yang rumit dan sulit.
Supaya hal tersebut dapat teratasi, maka perlu diadakan pembenahan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran Matematika khususnya materi bilangan loncat. Solusi yang diambil adalah dengan menggunakan media ular tangga. Setelah digunakannya media ular tangga, maka siswa akan lebih tertarik dan antusias dalam mengikuti pembelajaran matematika. Sehingga pada akhirnya hasil belajar siswa akan meningkat.
Adapun alur pemecahan masalah yang ditujukan untuk mengarahkan jalannya penelitian agar tidak menyimpang dari pokok-pokok permasalahan, maka pemecahan masalah  dilukiskan dalam sebuah gambar skema agar penelitian mempunyai gambaran yang jelas dalam melakukan penelitian. Adapun skema itu adalah sebagai berikut:
Kondisi Awal
Pembelajaran yang dilaksanakan guru masih bersifat konvensional
Hasil belajar siswa masih tingkat rata-rata
Diadakan perbaikan proses pembelajaran
Kondisi Akhir
Siswa lebih mudah memahami materi sehingga hasil belajar siswa meningkat
Menggunakan media ular tangga
Siklus 1
Siklus 2
Siklus 3
 
F.       
G.      






H.      








F.       Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka dapat ditetapkan tujuan penelitian sebagai berikut :
1.    Untuk mengetahui efektifitas penggunaan media ular tangga meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran matemtika kelas II SDN Tegalsari 03 Semarang tahun 2013.
G. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat secara teoritis dan praktis.
1.   Secara teoritis, jika dengan menggunakan media ular tangga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran Matematika di sekolah dasar, maka penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan teori untuk kegiatan-kegiatan inovasi pembelajaran, penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan menambah wawasan bagi pengkajian inovasi pembelajaran.
2.   Secara praktis, penelitian ini dapat digunakan:
1)   Bagi Kepala Sekolah
a.    Dapat digunakan sebagai bahan membuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Matematika.
b.    Dapat digunakan untuk mengadakan pembinaan dan pelatihan dalam mengembangkan kinerja guru dalam proses pembelajaran.
2)   Bagi Guru
a.    Dapat memperoleh keterampilan baru yaitu dengan media ular tangga dalam pembelajaran Matematika khususnya dalam pembahasan materi Bilangan Loncat pada siswa kelas II SD.
b.    Dapat digunakan oleh guru-guru di sekolah dasar dalam upaya pengembangan inovasi pembelajaran.
3)   Bagi Siswa
a.    Dapat meningkatkan dan membangkitkan minat serta keaktivan belajar siswa terhadap mata pelajaran Matematika dengan cara merangsang kebutuhan berprestasi yang ada dalam diri siswa melalui penggunaan media ular tangga.
b.    Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran Matematika khususnya dalam pembahasan bilangan loncat siswa kelas II SD.
H.    Kajian Teori
1.      Belajar
Belajar adalah perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (Bukan hasil perkembangan , pengaruh obat , kecelakaan) dan bias melaksakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain (pidarta,2000 : 197) dalam Warsita, 2008. Dengan demikian belajar menuntut adanya perubahan  yang relatif permanen pada pengetahuan atau perilaku seseorang karena pengalaman.
Konsep belajar sebagai suatu upaya atau proses perubahan perilaku seseorang sebahgai akibat interaksi peserta didik dengan berbagai suber belajar yang ada disekitarnya. Salah satu tanda seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi perubahan pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), Sikap (Afektif).
Konsep belajar menurut UNESCO menuntut setiap satuan pendidikan untuk dapat mengembangkan empat pilar pendidikan baik untuk sekarang dan masa depan yaitu (1) Learning To Know (belajar untuk mengetahui), (2) Learning To Do (Belajar untukk  melakukan sesuatu), (3) Learning To Be (Belajar Untuk menjadi seseorang), (4) Learning To Live Together (Belajar untuk menjalani kehidupan bersama) (Warsito Bamabang, 2008 : 63)
2.      Hasil Belajar
Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan (Purwanto, 2009 : 54). Hasil belajar diukur untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan sehingga hasil belajar harus sesuai dengan tujuan pendidikan.
Menurut Purwanto (2009, 48) domain hasil belajar adalah perilaku-perilau kejiwaan yang akan diubah dalam proses pendidikan. Perilaku kejiwaan itu dibagi dalam tiga domain : Koonitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi. Hasil belajar afektif adalah berhubunagan dengan perubahan sikap dan hasil belajar psikomotorik adalah berhubungan dengan keterampilan yang dimiliki siswa. 
Berdasarkan uraian di atas, dapat di simpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa dalam menerima informasi-informasi yang di peroleh dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam penelitian ini kemampuan siswa  yang diharapkan guru adalah dalam menguasai materi pada mata pelajaran matematika. Siswa diharapkan mampu  mendapathan hasil belajar yang baik pada mata pelajaran matematika.

     
3.      Pembelajaran Matematika di Sekolah
Kedudukan matematika sebagai salah satu ilmu dasar sangatlah penting untuk dipelajari dan dimengerti siswa. Untuk itu dalam penyusunan atau penyempurnaan kurikulum perlu adanya pertimbangan mengenai matematika sebagai salah satu bidang ilmu dasar. Hal itu berarti menunjukan bahwa maksud dari matematika di dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah adalah matematika disekolah. Suherman, dkk (2003: 55) menyatakan bahwa matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di pendidikan dasar (SD dan SMP) dan pendidikan menengah (SMA atau SMK).

4.      Fungsi dan Tujuan Matematika di Sekolah
Adapun fungsi matematika di sekolah adalah sebagai berikut:
1)      Sebagai alat, alat yang dimaksud disni adalah matematika diberikan kepada siswa agar siswa mampu memahami makna dari materi matematika tersebut dan mampu menyampaikan informasi yang sudah siswa dapat pada pembelajaran matematika itu sendiri.
2)      Sebagai pola pikir, belajar matematika bagi para siswa juga merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran dari suatu konsep. Siswa akan memperoleh pemahaman melalui pengalamannya sendiri, dengan berbagai contoh ataupun bukan, kemudian siswa diharapkan mampu menangkap pengertian suatu konsep selanjutnya melalui abstraksi siswa dilatih membuat perkiraan-perkiraan yang nyata, terkaan dari suatu konsep dan kecenderungan dari pengalaman yang siswa dapat. Di dalam proses penalaran itulah dikembangkan pola pikir siswa terhadap suatu konsep dengan memperhatikan perkembangan siswa sehingga dapat membantu kelancaran belajar matematika siswa.
3)      Sebagai ilmu atau pengetahuan, dalam belajar matematika tentunya diperoleh ilmu-ilmu atau berbagai pengetahuan yang awalnya tidak diketahui menjadi tahu dan mengerti, sehingga belajar matematika mempunyai nilai positif untuk kehidupan siswa.
Sedangkan menurut Purwanto (2009: 58) tujuan matematika disekolah adalah sebagai beriku:
1)      Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan, keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.
2)      Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

5.      Peranan Matematika di Sekolah
Peran pelajar dalam penggunaan matematika yang di berikan di sekolah bisa untuk memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang ada. Selain itu dapat digunakan siswa untuk mengikuti mata pelajaran yang lain seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi dan bidang ilmu lainnya. Untuk mengoptimalkan peranan matematika perlu juga dioptimalkan proses pembelajaran. Seperti yang diungkapkan Uno (2009: 163) bahwa untuk mengoptimalkan poses pembelajaran perlu dikembangkan proses belajar aktif, sebagai berikut:
1)      Menggunakan bermacam-macam strategi tanya jawab.
2)      Mengajukan masalah untk dipesahkan oleh para siswa.
3)      Mengkonstruksi model dari konsep kunci.
4)      Menyuruh siswa untuk mengungkapkan pemahaman mereka dengan menggunakan objek yang konkret.
5)      Memprediksi dan membuktikan dampak atau hasil secara logis.
6)      Mempertajam pola dan hubungan dalam bermacam-macam fenomena.
7)      Meminta siswa untuk mengemukakan alasan dari pernyataan dan pendapat mereka.
8)      Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk melakukan pengamatan dan analisis.
9)      Mendorong siswa untuk membangun maksud dan tujuan dari belajar.
10)  Menghubungkan konsep atau proses matematis dengan mata pelajaran lain dan juga dengan kehidupan nyata.  
6.      Pengertian Media Pembelajaran
Menurut Arif S. Sardiman (2006), kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Jadi televisi, film, foto, radi0, rekaman audi0, gambar yang dipr0yeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya adalah media k0munikasi. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksi0nal atau mengandung maksud pengajaran, maka media itu disebut media pengajaran. (Heinch,dkk,1982)
Media pembelajaran adalah alat bantu mengajar yang turut mempengarui iklim, k0ndisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan 0leh guru (Ashar Arsyad, 1996 : 14)
Setiap kali kata media pendidikan digunakan secara bergantian dengan istilah alat bantu atau media k0munikasi seperti yang dikemukakan 0leh Hamalik (1986:4) dimana ia melihat bahwa hubungan k0munikasi akan berjalan dengan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media k0munikasi. Secara emplisit mengatakan bahwa media pembelajaran yang meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran antara lain buku, tape rec0rder , kaset, vide0 kamera, vide0 rec0rder, film, slide ( gambar bingkai), foto, gambar,grafik,televise dan k0mputer. Dengan kata lai media adalah k0mp0nen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksi0nal di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksinal atau mengandung maksud-maksud pengajaran selain itu media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima.
I.       Metodologi Penelitian
a.      Tempat dan Waktu Penelitian
1.    Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 01 Tegalsari Semarang. Alasan pemilihan tempat ini adalah karena banyak sekali masalah yang muncul.

2.    Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal tahun 2013, lebih tepatnya bulan Agustus tahun pelajaran 2013/2014.

b.      Subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas II SD Negeri Tegalsari 03 Semarang tahun pelajaran 2013/2014, dimana jumlah keseluruhan siswa kelas II ini ada 17 siswa, siswa perempuan berjumlah 9 anak dan siswa laki-laki berjumlah 8 anak.

c.       Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yaitu suatu penelitian tindakan yang dilakukan di kelas.
Menurut Supardi dan Suhardjono (2011: 17) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran sedang berlangsung. PTK dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.

d.      Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini  guru kelas V SDNegeri Tegalarum yang bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar siswa di kelas dan data yang diperoleh dari teman sejawat bertujuan untuk mengetahui perilaku kerja sama dalam lingkungan belajar.
Selain itu informasi juga digali dari berbagi sumber data dan jenis data yang lain meliputi:
1.    arsip, daftar nilai, rapor siswa, catatan pribadi siswa;
2.    tes hasil belajar.

e.    Metode Penelitian
Sesuai dengan bentuk penelitian dan sumber data yang dimanfaatkan, maka metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.    Non Tes
a.    Observasi
Menurut Sutrisno Hadi (Sugiyono, 2010: 203), observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Menurut Sugiyono (2010: 205), dari segi instrumentasi yang digunakan, observasi dapat dibedakan menjadi berikut ini:
1)   Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya. Jadi, observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti tentang variabel apa yang akan diamati. Observasi terstruktur menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda centang (√) pada tempat yang disediakan.
2)   Observasi tidak terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Oleh karena itu, peneliti dapat melakukan pengamatan bebas, mencatat apa yang menarik, melakukan analisis dan kemudian dibuat kesimpulan.
Dalam penelitian ini, observasi dilakukan dengan menggunakan metode observasi terstruktur. Observasi dilakukan terhadap siswa kelas V SDNegeri Tegalarum. Observasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan model pembelajaran ARIAS dan penggunaan media kartu gambar.

b.    Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 2010: 201).
Dokumentasi bertujuan untuk mengungkapkan fakta atau kenyataan pada saat pelaksanaan tindakan.

2.    Tes
Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 193), tes sebagai teknik pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Macam tes ditinjau dari sasaran atau objek yang akan dievaluasi, dapat dibedakan menjadi: (1) tes kepribadian atau personality test, (2) tes bakat atau aptitude test, (3) tes inteligensi atau intelligence test, (4) tes sikap atau attitude test, (5) teknik proyeksi atau projective technique, (6) tes minat atau measures of interest, dan (7) tes prestasi atau achievement test.

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes prestasi atau achievement test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu sehingga dapat diketahui apakah model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas V SDN Tegalarum. Tes ini disajikan dalam bentuk pilihan ganda dengan jumlah 30 butir soal, dimana tes ini akan diberikan pada setiap akhir pembelajaran setelah diajarkan materi mengenai peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.

f.     Instrumen Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 192), instrumen penelitian merupakan alat bantu yang digunakan untuk memperoleh data penelitian sesuai dengan metode yang digunakan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:


1.    Non Tes
a.    Lembar Observasi (check-list)
Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran IPS. Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran IPS berbentuk check-list dengan pilihan jawaban “ya” atau “tidak”, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda centang (√) pada tempat yang disediakan. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui kemampuan belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan model pembelajaran ARIAS dan penggunaan media kartu gambar.

b.    Pedoman Dokumentasi
Dokumentasi dalam penelitian ini berbentuk catatan lapangan yang merupakan catatan tertulis tentang segala sesuatu yang berisi hal-hal yang terjadi selama proses pembelajaran di kelas. Hal-hal yang dicatat antara lain suasana kelas, pengelolaan kelas, interaksi guru dengan siswa, dan peningkatan prestasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan aktivitas siswa yang aktif dalam proses pembelajaran.
2.    Tes
Instrumen tes yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa berupa soal tes prestasi. Tes prestasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis untuk mengetahui skor peningkatan prestasi individu. Tes diberikan pada akhir pembelajaran kepada masing-masing siswa. Tes dikerjakan secara individu. Tes ini berupa soal pilihan ganda yang berjumlah 30 butir soal.

g.    Validitas Data
Menurut Arikunto (2010: 211), validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid atau kurang sahih memiliki validitas rendah. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan, dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Dalam penelitian ini untuk menjamin kesahihan data dan mengembangkan validitas data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah menggunakan trianggulasi data (sumber) yaitu mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. Misalnya dibalik data yang berupa informasi, arsip dan peristiwa. Selain itu, dalam penelitian ini proses validasi data juga dilakukan dengan meminta penilaian terhadap para ahli dan praktisi berkenaan dengan isi dari observasi yang digunakan sebagai alat pengumpul data, sehingga alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam penelitian ini, kevalidannya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

h.   Uji Instrumen
Instrumen dalam penelitian ini berupa soal tes berbentuk pilihan ganda. Soal tes tersebut  adalah tes yang diberikan setelah materi pokok bahasan peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia selesai disampaikan dengan menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar. Prosedur yang akan ditempuh dalam pengadaan instrumen adalah:
1.    Mengadakan pembatasan terhadap materi yang akan diteskan.
2.    Menentukan tipe soal yaitu pilihan ganda.
3.    Menentukan jumlah butir soal dan waktu yang disediakan untuk menyelesaikan soal-soal tes.
4.    Pembuatan kisi-kisi soal.
5.    Penulisan butir soal.
6.    Melengkapi instrumen dengan petunjuk dan kunci jawaban.
7.    Uji coba soal tes, soal tes diujicobakan dahulu dengan melakukan try out di kelas lain.
8.    Penganalisaan hasil yaitu menganalisa item soal yang diujicobakan. Penganalisaan    hasil   ini    dilakukan    dengan    cara   mengukur dan menghitung validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembedanya. Secara umum diuraikan sebagai berikut:

a.    Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat validitas suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas yang tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti mempunyai validitas rendah. Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilai (instrumen) terhadap aspek yang dinilai sehingga benar-benar menilai apa yang seharusnya dinilai.
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat validitas suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas yang tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti mempunyai validitas rendah. Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilai (instrumen) terhadap aspek yang dinilai sehingga benar-benar menilai apa yang seharusnya dinilai.
Validitas empiris dari tes ini dicari validitasnya butir soal dengan menggunakan korelasi antara skor butir soal tersebut dengan skor total. Untuk menghitung validitas butir soal digunakan rumus korelasi product moment, sebagai berikut:
Keterangan :
                        : Koefisien korelasi antara x dan y
N              : Jumlah subjek atau siswa yang diteliti
ΣX            : Skor tiap butir soal
ΣY            : Skor total
       : Jumlah kuadrat skor butir soal
        : Jumlah kuadrat skor total
Setelah didapat harga , kemudian dikonsultasikan dengan harga ktitik  yang ada pada tabel dengan taraf nyata 5%. Apabila  lebih besar dari harga tabel, maka butir soal tersebut dinyatakan valid. Namun, apabila  lebih kecil dari harga tabel, maka butir soal tersebut dinyatakan tidak valid (Arikunto, 2010: 213).

b.   Reliabilitas
Reliabilitas artinya dapat dipercaya atau diandalkan. Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 221), suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Untuk keperluan mencari reliabilitas butir soal pilihan ganda, maka rumus yang digunakan adalah rumus Spearman-Brown, dimana jumlah soal pilihan ganda ini ada 30 butir soal yang akan diuji reliabilitasnya dengan uji belah ganjil-genap. Menurut Arikunto (2010: 223), langkah-langkah uji reliabilitas dengan rumus  Spearman-Brown (belah ganjil-genap) adalah sebagai berikut:
1)   Membuat tabel analisis butir soal atau butir pertanyaan.
2)   Mengelompokkan skor-skor menjadi dua belahan bagian ganjil dan bagian genap.
3)   Belahan bagian yang bernomor ganjil sebagai belahan pertama dan belahan bagian yang bernomor genap sebagai belahan kedua.
4)   Mengkorelasikan skor belahan pertama dengan skor belahan kedua sehingga diperoleh harga .
5)   Harga  merupakan indeks korelasi yang diperoleh baru menunjukkan hubungan antara dua belahan instrumen, maka untuk memperoleh indeks reliabilitas soal masih harus menggunakan rumus Spearman-Brown, yaitu:

Keterangan:
           : reliabilitas instrumen
  :  yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan instrumen
6)   Mengkonsultasikan harga  dengan tabel . Jika harga  kurang dari  (taraf kesukaran 5%), maka instrumen dinyatakan tidak reliabel. Tetapi apabila harga  lebih dari harga , maka instrumen dinyatakan reliabel.

c.    Tingkat Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk meningkatkan usaha menyelesaikannya, soal yang terlalu sukar atau menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauan. Indeks kesukaran soal adalah bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu soal. Menurut Arikunto (2009: 207), untuk menghitung tingkat kesukaran soal pilihan ganda, yang digunakan adalah rumus:  
Keterangan:
P   : indeks kesukaran
B  : banyaknya siswa yang menjawab benar
JS : jumlah seluruh siswa peserta tes

Untuk menginterprestasikan nilai tingkat kesukaran itemnya dapat digunakan kriteria sebagai berikut:
1.    Jika soal dengan P adalah 1,00 sampai 0,30 maka soal sukar.
2.    Jika soal dengan P adalah 0,30 sampai 0,70 maka soal sedang.
3.    Jika soal dengan P adalah 0,70 sampai 1,00 maka soal mudah.
d.   Daya Pembeda
Daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu soal mampu membedakan antara siswa  yang pandai (kelompok atas) dengan siswa yang kurang pandai (kelompok bawah). Suatu soal dianggap baik bila siswa yang pandai dapat menjawab dengan benar dan siswa yang kurang pandai menjawab salah, semakin besar daya pembeda soal maka soal tersebut semakin baik. Teknik yang digunakan untuk menghitung daya pembeda bentuk soal pilihan ganda adalah sebagai berikut:
Keterangan :
D              : daya pembeda soal
                        : banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab benar
              : banyaknya siswa kelompok atas
                        : banyaknya siswa kelompok bawah yang menjawab benar
               : banyaknya siswa kelompok bawah
                                                   : proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
          : proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Untuk menginterprestasikan nilai tingkat kesukaran itemnya dapat digunakan kriteria sebagai berikut:
1.    Jika D ≤ 0,00 adalah soal sangat jelek, tidak baik.
2.    Jika 0,00 < D ≤ 0,20 adalah soal jelek.
3.    Jika 0,20 < D ≤ 0,40 adalah soal cukup baik.
4.    Jika 0,40 < D ≤ 0,70 adalah soal baik.
5.    Jika 0,70 < D ≤ 1,00 adalah soal sangat baik. (Arikunto, 2009: 211)

i.          Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif. Menurut Huberman (Sutopo, 1996: 186) mengemukakan bahwa analisis data dalam penelitian adalah model analisi interaktif yang mempunyai tiga komponen yaitu: 1) sajian data, 2) reduksi data, dan 3) penarikan kesimpulan atau verifikasi data masih berlangsung.
Untuk jelasnya proses analisis interaktif dapat digambarkan dengan skema berikut:

Reduksi Data
Pengumpulan Data
Sajian Data
Penarikan Simpulan atau Verifikasi Data
 








Model Analisis Interaktif (Sutopo, 1996: 186)

Langkah-langkah analisis data adalah:
a.    Melakukan analisis awal bila data yang didapatkan di kelas sudah cukup maka dapat dikumpulkan.
b.    Mengembangkan bentuk sajian data dengan menyusun koding dan matrik yang berguna untuk penelitian lanjutan.
c.    Melakukan analisis data di kelas dan mengembangkan matrik antar kasus.
d.   Melakukan verifikasi, pengayaan dan pendalaman data. Apabila dalam persiapan analisis ternyata ditemukan data yang kurang lengkap atau kurang jelas, maka perlu dilakukan pengumpulan data lagi secara lebih terfokus.
e.    Melakukan analisis antar kasus, dikembangkan struktur sajian datanya bagi susunan laporan.
f.     Merumuskan kesimpulan akhir sebagai temuan penelitian.
g.    Merumuskan implikasi kebijaksanaan sebagai bagian dari pengembangan saran dalam akhir penelitian.

j.          Rencana dan Prosedur Penelitian
a.     Rencana Penelitian
Berdasarkan masalah yang diajukan dalam penelitian ini yang lebih menekankan pada masalah perbaikan proses pembelajaran di kelas maka bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Dengan menggunakan penelitian tindakan kelas ini peneliti berharap akan mendapat informasi yang sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan pembelajaran di kelas secara lebih baik.

b.    Prosedur Penelitian
Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari siklus-siklus. Tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahannya yang dicapai, seperti yang telah dibuat dalam faktor-faktor yang diselidiki. Untuk mengetahui permasalahan yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS siswa kelas V SDNegeri Tegalarum Kecamatan Jaken Kabupaten Pati dilakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru. Melalui langkah-langkah tersebut akan dapat ditentukan tindakan yang tepat dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS di SD.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan dalam uraian berikut:
1)   Siklus I
a)    Tahap Perencanaan
Kegiatan perencanaan ini meliputi tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut akan dilakukan. Rancangan harus dilakukan bersama antara guru yang akan melakukan tindakan dan peneliti yang akan mengamati proses jalannya tindakan. Kegiatan perencanaan tindakan meliputi:
i.     Peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan Standar Kompetensi: Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia; dan Kompetensi Dasar: Mengenal makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
ii.   Peneliti mempersiapkan fasilitas dan sarana yang diperlukan dalam pembelajaran seperti sumber belajar, LKS dan lembar soal sebagai latihan siswa.
iii. Peneliti menyiapkan lembar observasi kegiatan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
iv. Peneliti menyiapkan peralatan seperti kamera untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan selama proses pembelajaran.
v.   Membuat media kartu gambar.
vi. Peneliti menyiapkan lembar evaluasi untuk siswa.

b)   Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan merupakan penerapan dari perencanaan yang telah dibuat yang dapat berupa sesuatu penerapan model pembelajaran tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki atau menyempurnakan model yang sedang dijalankan. Tahap pelaksanaan meliputi:
                                                i.     Melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
                                              ii.     Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai pada pokok pelajaran hari itu.
                                            iii.     Membahas materi pelajaran.
                                            iv.     Menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dalam proses pembelajaran.
                                              v.     Membimbing siswa untuk dapat mengisi lyric lagu yang hilang dari lagu materi yang dinyanyikan di dalam kartu gambar.
                                            vi.     Mengadakan evaluasi.
                                          vii.     Mengumpulkan hasil kerja siswa.

c)    Tahap Pengamatan (Observasi)
Observasi merupakan pengamatan yang dilakukan secara langsung pada siswa untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang berfungsi untuk melihat dan mendokumentasikan pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh tindakan di dalam kelas. Tahap pengamatan meliputi:
(1)     Melakukan observasi dengan menggunakan format observasi.
(2)     Mencatat semua perubahan yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan guru.
(3)     Menilai hasil tindakan dengan mengunakan format LKS.

Observasi diarahkan pada poin-poin yang telah ditetapkan dalam indikator.
                                                i.     Indikator keberhasilan guru yang ingin dicapai adalah :
(a)    Cara menyampaikan materi pelajaran.
(b)   Cara pengelolaan kelas.
(c)    Cara-cara penggunaan alat-alat pelajaran.
(d)   Suara guru dalam menyampaikan pelajaran.
(e)    Cara guru menyampaikan bimbingan individual yang dibutuhkan.
(f)    Waktu yang diperlukan guru.
(g)   Penampilan guru di depan kelas.

                                              ii.     Indikator-indikator keberhasilan siswa yang ingin dicapai adalah:
(a)      Minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS.
(b)      Keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS.
(c)      Kemampuan siswa dalam mengisi lagu yang rumpang sesuai materi yang diajarkan.
(d)     Banyaknya siswa yang bertanya.
(e)      Peningkatan kemampuan siswa bekerjasama dan mendemostrasikan pengetahuan yang telah dikonstruksi.
(f)       Ketepatan dan kecepatan dalam mengerjakan soal.

d)   Tahap Refleksi
Refleksi bertujuan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan maupun kelebihan-kelebihan yang terjadi selama proses pembelajaran di siklus I. Kekurangan-kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran digunakan untuk bahan perbaikan pada siklus berikutnya. Sedangkan kelebihan-kelebihannya dipertahankan dan dikembangkan untuk menjadi keunggulan pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah peneliti mengumpulkan dan menganalisis data yang diperoleh selama peneliti melakukan observasi, yaitu meliputi data yang diperoleh dari hasil observasi siswa, hasil tes, dan catatan lapangan. Hasil analisa digunakan untuk mengetahui kekurangan maupun ketercapaian pada siklus I. Data dan informasi yang diperoleh pada kegiatan siklus I digunakan sebagai pertimbangan perencanaan pembelajaran siklus berikutnya yang diharapkan lebih baik dari siklus sebelumnya.
Refleksi dilakukan setelah mengadakan pengamatan yang dilakukan oleh guru kelas V terhadap pembelajaran yang telah terjadi. Jika dalam pembelajaran pada siklus I tentang mengisi lyric lagu yang rumpang sesuai materi didapatkan suatu kendala yaitu adanya nilai siswa yang belum mencapai hasil yang diharapkan atau tindakan belum tercapai secara optimal, maka perlu adanya perbaikan pada siklus II.

2)   Siklus II
Siklus ini dilakukan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
a) Tahap Perencanaan, meliputi:
                                                i.     Identifikasi masalah atas kelemahan dan kekurangan pada siklus I. Dari refleksi hasil kegiatan pada siklus I, sebagai dasar untuk menyusun merencanakan siklus II.
                                              ii.     Merencanakan dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
                                            iii.     Peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan Standar Kompetensi: Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia; dan Kompetensi Dasar: Mengenal makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
                                            iv.     Peneliti mempersiapkan fasilitas dan sarana yang diperlukan dalam pembelajaran seperti sumber belajar, LKS dan lembar soal sebagai latihan siswa.
                                              v.     Peneliti menyiapkan lembar observasi kegiatan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
                                            vi.     Peneliti menyiapkan peralatan seperti kamera untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan selama proses pembelajaran.
                                          vii.     Membuat kartu gambar.
                                        viii.     Peneliti memadukan hasil refleksi daur siklus I agar daur siklus II lebih efektif.
                                            ix.     Peneliti menyiapkan lembar evaluasi untuk siswa.
                                              x.     Pengembangan dan memperbaiki kesalahan atau kelemahan pada siklus I.
                                            xi.     Menyusun kegiatan program tindakan II akibat kelemahan pada siklus I.

b) Tahap Pelaksanaan Tindakan, meliputi:
                                            i.     Melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
                                          ii.     Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai pada pokok pelajaran hari itu.
                                        iii.     Membahas materi pelajaran.
                                        iv.     Menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dalam proses pembelajaran.
                                          v.     Membimbing siswa untuk dapat mengisi lyric lagu yang masih rumpang sesuai materi yang diajarkan, dengan memadukan hasil refleksi daur siklus I agar daur siklus II lebih efektif.
                                        vi.     Mengadakan evaluasi.
                                      vii.     Mengumpulkan hasil kerja siswa.

c) Tahap Pengamatan (Observasi), meliputi:
(1)     Melakukan observasi dengan menggunakan format observasi.
(2)     Mencatat dan merekam semua perubahan yang terjadi dari siklus I ke siklus II akibat tindakan II yang dilakukan guru.
(3)     Menilai hasil tindakan dengan mengunakan format LKS.

Observasi diarahkan pada poin-poin yang telah ditetapkan dalam indikator.
                                                i.     Indikator keberhasilan guru yang ingin dicapai adalah:
(a)    Cara menyampaikan materi pelajaran.
(b)   Cara pengelolaan kelas.
(c)    Cara-cara penggunaan alat-alat pelajaran.
(d)   Suara guru dalam menyampaikan pelajaran.
(e)    Cara guru menyampaikan bimbingan kelompok yang dibutuhkan.
(f)    Waktu yang diperlukan guru.
(g)   Penampilan guru di depan kelas.
                                              ii.     Indikator-indikator keberhasilan siswa yang ingin dicapai adalah:
(a)     Minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS.
(b)    Keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS.
(c)     Kemampuan siswa dalam mengisi lyric lagu yang rumpang sesuai materi yang diajarkan.
(d)    Banyaknya siswa yang bertanya.
(e)     Peningkatan kemampuan siswa bekerjasama dan mendemostrasikan pengetahuan yang telah di konstruksi.
(f)     Ketepatan dan kecepatan dalam mengerjakan soal.

d) Tahap Refleksi
Dari hasil penelitian pada siklus II, dilakukan evaluasi dan analisis dengan cara melihat prestasi atau nilai siswa. Kemudian hasil analisis pada siklus II digunakan sebagai kesimpulan dari penelitian. Apakah dengan menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan tercapai sesuai dengan target yang telah ditetapkan.


3)   Siklus III
Siklus ini dilakukan berdasarkan hasil refleksi pada siklus II. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :
a) Tahap Perencanaan, meliputi:
                                                i.     Peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan Standar Kompetensi: Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia; dan Kompetensi Dasar: Mengenal makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
                                              ii.     Peneliti mempersiapkan fasilitas dan sarana yang diperlukan dalam pembelajaran seperti sumber belajar, LKS dan lembar soal sebagai latihan siswa.
                                            iii.     Peneliti menyiapkan lembar observasi kegiatan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
                                            iv.     Peneliti menyiapkan peralatan seperti kamera untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan selama proses pembelajaran.
                                              v.     Membuat kartu gambar.
                                            vi.     Peneliti memadukan hasil refleksi daur siklus II agar daur siklus III tidak menurun atau lebih efektif.
                                          vii.     Peneliti menyiapkan lembar evaluasi untuk siswa.

b) Tahap Pelaksanaan Tindakan, meliputi:
                                                i.     Melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
                                              ii.     Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai pada pokok pelajaran hari itu.
                                            iii.     Membahas materi pelajaran.
                                            iv.     Menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar.
                                              v.     Membimbing siswa untuk dapat mengisi lyric lagu yang masih rumpang sesuai materi yang diajarkan, dengan memadukan hasil refleksi daur siklus II agar daur siklus III tidak menurun atau lebih efektif.
                                            vi.     Mengadakan evaluasi.
                                          vii.     Mengumpulkan hasil kerja siswa.

c) Tahap Pengamatan (Observasi), meliputi:
(1)     Melakukan observasi dengan menggunakan format observasi.
(2)     Mencatat dan merekam semua aktivitas yang terjadi dari siklus II ke siklus III akibat tindakan III yang dilakukan guru.
(3)     Menilai hasil tindakan dengan mengunakan format LKS.

Observasi diarahkan pada poin-poin yang telah ditetapkan dalam indikator.
                                                i.     Indikator keberhasilan guru yang ingin dicapai adalah:
(a)      Cara menyampaikan materi pelajaran.
(b)      Cara pengelolaan kelas.
(c)      Cara-cara penggunaan alat-alat pelajaran.
(d)     Suara guru dalam menyampaikan pelajaran.
(e)      Cara guru menyampaikan bimbingan kelompok yang dibutuhkan.
(f)       Waktu yang diperlukan guru.
(g)      Penampilan guru di depan kelas.
                                              ii.     Indikator-indikator keberhasilan siswa yang ingin dicapai adalah:
(a)      Minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS.
(b)      Keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS.
(c)      Kemampuan siswa dalam mengisi lyric lagu yang rumpang sesuai materi yang diajarkan.
(d)     Banyaknya siswa yang bertanya.
(e)      Peningkatan kemampuan siswa bekerjasama dan mendemostrasikan pengetahuan yang telah di konstruksi.
(f)       Ketepatan dan kecepatan dalam mengerjakan soal.

d) Tahap Refleksi
Dari hasil penelitian pada siklus III, dilakukan analisis dengan cara melihat prestasi atau nilai siswa. Kemudian hasil analisis pada siklus III digunakan sebagai kesimpulan dari penelitian. Apakah dengan menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dapat melestarikan peningkatan prestasi belajar siswa. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan tercapai sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Apabila pada siklus II, telah terbukti bahwa model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, maka siklus III ini sebagai pelestari peningkatan prestasi belajar siswa terhadap pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran ARIAS dan media kartu gambar.
Dari rincian prosedur penelitian di atas maka dapat disimpulkan bahwa mekanisme kerja diwujudkan dalam bentuk siklus (direncanakan 3 siklus) yang setiap siklusnya tercakup 4 kegiatan (tahap), yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini:


Perencanaan 1
Siklus I
 


Refleksi
Pelaksanaan
                                                                               
Pengamatan
Perencanaan 2
Pelaksanaan
Pengamatan
Siklus II
Refleksi
Perencanaan 3
Pelaksanaan
Pengamatan
Refleksi
Siklus III
 


















Penelitian Tindakan Kelas Mode Kemmis dan Mc Taggart (Arikunto, 2010: 137)

Bila hasil refleksi dan evaluasi siklus I menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas V SD, maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus II atau dapat dilanjutkan ke siklus II tetapi siklus II sebagai pelestari peningkatan prestasi belajar siswa. Namun, apabila pada siklus I belum memperlihatkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas V SD, maka dibuat siklus II yang meliputi: tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi tindakan dan tahap refleksi. Demikian juga untuk siklus III, apabila dalam pembelajaran belum ada peningkatan maka siklus dilanjutkan sampai prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS menunjukkan adanya peningkatan atau meningkat. Namun, dalam penelitian ini, siklus III dimaksudkan untuk melestarikan siklus II jika hasilnya mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.
Menurut Supardi dan Suhardjono (2011: 60), dalam penelitian tindakan kelas sebaiknya tidak terlalu banyak siklus penelitiannya dan tiap siklus tidak boleh hanya satu kali pertemuan. Oleh karena itu, agar tidak terlalu banyak siklus, maka guru dapat mempersiapkan skenario pelaksanaan tindakan yang sebaik mungkin. Seyogyanya maksimum tiga siklus.


DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Rifqi Dian. 2011. Penerapan Model Pembelajaran ARIAS Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Siswa IIIA SDN Purwantoro 2 Kota Malang. Skripsi. http://library.um.ac.id. Diakses tanggal 8 Juni 2012.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
                                . 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Beard, Ruth M. dan Senior, Isabel J. 1980. Motivating students. London: Routledge and Kegan Paul Ltd.
Bohlin, Roy M. 1987. Motivation in instructional design: Comparison of an American and a Soviet model. Journal of Instructional Development. Vol. 10 (2), 11-14.
Callahan, Sterling G. 1966. Successful teaching in secondary schools. Chicago: Scott, Foreman and Company.
Campbell, Don. 2002. Efek Mozart Bagi Anak-anak. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama .
DeCecco, John P. 1968. The psychology of learning and instructions: Educational psychology. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Dimyati dan Erwin Setyo Kriswanto. 2009. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pelajaran Pendidikan Jasmani Melalui Aplikasi Model Pembelajaran ARIAS. Proceeding, Diseminasi Hasil-Hasil Penelitian Tingkat Nasional. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta.
Gagne, Robert M, dan Briggs, Leslie J. 1979. Principles of instructional design. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Gagne, Robert M. dan Driscoll, Marcy P. 1988. Essentials of learning for instruction. Englewood Cliffs, NJ.: Prentice-Hall, Inc.
Hendorn, James N. 1987. Learner interests, achievement, and continuing motivation in instruction. Journal of Instructional Development. Vol. 10 (3), 11-14.
Hilgard, Ernest R. dan Bower, Gordon H. 1975. Theories of learning. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, Inc.
Hopkins, Charles D. dan Antes, Richard L. 1990. Classroom measurement and evaluation. Itasca, Illinois: F.E. Peacock Publisher, Inc.
Indiati, Intan dan Listyaning Sumardiyani. 2011. Reflective Microteaching. Semarang: IKIP PGRI SEMARANG Press.
Joyce dan Weil. 1986. Models Of Teaching. New York: John Willey and Son.
Keller, John M. 1987. Development and use of ARCS model of instructional design. Journal of Instructional Development. Vol. 10 (3), 2-9.
Keller, John M. dan Thomas W. Kopp. 1987. An application of the ARCS model of motivational design. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Lefrancois, Guy R. 1982. Psychology for teaching. Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company.
McClelland, David C. 1987. Memacu masyarakat berprestasi. Terjemahan Siswo Suyanto dan W.W. Bakowatun. Jakarta: CV Intermedia.
Morris, William (ed) 1981. The American heritage dictionary of English language. Boston: Houghton Miflin Company.
Nasution, Noehi, Et. all. 1998. Materi Pokok Psikologi Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka.
Prayitno, Elida 1989. Motivasi dalam belajar. Jakarta: PPPLPTK.
Rahmatina. 2007. Penggunaan Permainan dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Jurnal Kependidikan. XVI (1), 83-85.
Reigeluth, Charles M. dan Curtis Ruth V. 1987. Learning situations and instructinal models. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Sadiman, Arief S., dkk. 2011. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Satrio, Adi. 2005. Kamus Ilmiah Populer. Visi7.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Sopah, D. 2007. Model Pembelajaran ARIAS. Disertasi. PPS-IKIP Jakarta. http://gurupkn.wordpress.com/2007/12/22/model-pembelajaran-arias/. Diakses tanggal 1 Juni 2012.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sulistianingsih, Marlina. 2011. Indikator Prestasi Belajar. Artikel. http://marlinasulistianingsih.blogspot.com/2011/04/indikator-prestasi-belajar.html. Diakses tanggal 27 Juni 2012.
Supardi dan Suhardjono. 2011. Strategi Menyusun Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: ANDI Offset.
Sutopo, HB. 1996. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Wisanggeni. 2011. Arti Pengertian dan Definisi Prestasi Belajar. Artikel. http://mahera.net/2011/01/arti-pengertian-definisi-prestasi-belajar/. Diakses tanggal 10 April 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar